Tidak bisa dibantah bahwa Asia merupakan salah satu pusat pertumbuhan teknologi terpenting untuk beberapa dekade mendatang. Benua ini adalah kunci bagi pertumbuhan Facebook, tempat dimana sebagian besar data web dibuat, dan rumah bagi China dimana beberapa perusahaan teknologi multi-miliar dollar dunia berada. Tapi Asia tidak sendirian mengamati Silicon Valley, Mekkah-nya dunia teknologi. Silicon Valley mendominasi dan memimpin semua orang menuju abad inovasi teknologi. Kita semua iri terhadap Valley.
Terlepas dari fakta bahwa Asia kini hadir dengan filosofi startup yang organik dan infrastruktur, leapfrogging, dan bootstrapping, masih perlu waktu lama bagi Asia untuk menjadi pemimpin di dunia teknologi. Saya kira sepuluh tahun.
Pembayaran, logistik, infrastruktur, dan penetrasi internet
Hambatan utama Asia untuk menjadi seperti Valley adalah pembayaran, logistik, infrastruktur, dan penetrasi internet. Bagaimana hal-hal tersebut akan berdampak pada usaha Asia untuk menjadi pemimpin dunia teknologi? Investor di kawasan ini umumnya tertarik pada sesuatu yang mudah didapat. Dengan kata lain, seluruh ekosistem Asia ditujukan untuk masalah yang sistemik. Jika hal-hal tersebut tidak segera diselesaikan, mimpi untuk menjadi pemimpin di dunia teknologi hanya akan menjadi angan-angan.
Satu tren ke tren berikutnya
Salah satu keunggulan Silicon Valley adalah bahwa seluruh teknologi baru dibuat dan diluncurkan di sana. Itu berarti startup di sana mengetahui tren terbaru dan bisa membuat tren baru berikutnya. Misalnya, Uber dan Airbnb sama-sama membangun tren perekonomian bagi hasil, sebuah tren yang dimulai oleh Craigslist beberapa tahun sebelumnya. Kickstarter dan Indiegogo membangun beberapa tren lain termasuk kemudahan e-payment dan ketertarikan yang bertumbuh terhadap proyek unik. Wajar jika crowdfunding mulai bermunculan, karena orang-orang siap untuk ini.
Selain itu, ada ketertarikan dari perusahaan besar terhadap perusahaan kecil melalui Valley. Meski IPO memang menarik, tapi exit yang paling umum adalah merger dan akuisisi. Dengan kata lain, perusahaan yang lebih besar mengakusisi perusahaan yang sesuai dengan agenda mereka.
Sekarang semua orang yang membaca ini akan berkata, "Hey, lihatlah e-commerce dan pertumbuhannya yang pesat di seluruh Asia," E-commerce adalah salah satu pasar yang tumbuh paling cepat dan paling kompetitif di Asia. Pesaing besar seperti Alibaba, Rakuten, dan pesaing besar lainnya di Asia bersaing dengan sengit untuk pasar domestik dan pasar di negara tetangga mereka. E-commerce juga merupakan industri yang sesuai dengan kawasan dimana retail dan supermarket belum sebesar Walmart, Costco, dan Target.
Memimpin dunia berarti membangun platform yang user-friendly dan developer-friendly
Pada akhirnya, apa yang Asia butuhkan adalah sebuah startup multi-miliar dollar yang membangun sebuah platform yang mau digunakan oleh semua orang di dunia. Seperti yang dilakukan Google, Facebook, Salesforce, dan Apple. Mereka membuat platform dengan pengguna yang banyak yang digunakan developer dan entrepreneur sebagai fondasi. Bisakah Asia melakukannya? Mungkin tidak dalam waktu dekat.
Artikel ini pertama kali muncul di Tech in Asia Indonesia
Sumber




0 komentar:
Posting Komentar